Berkalvari

    Berkalvari

    Kalvari banyak berbicara tentang penderitaan, tetapi kalvari juga berbicara tentang kemuliaan. Gaya kepemimpinan berkalvari adalah gaya kepemimpinan yang rela menderita demi terwujudnya visi yang dari Tuhan dan rela menunggu pemuliaan yang dari Tuhan. Kepemimpinan berkalvari bukanlah kepemimpinan yang menghindari penderitaan dan juga bukanlah kepemimpinan yang mencari kemuliaan diri.

    Yesus adalah pemimpin yang rela membayar harga dengan menderita demi apa yang dipahamiNya sebagai visi dari Bapa untuk DiriNya di muka bumi ini. Keempat karakter Yesus (lemah lembut, taat, rendah hati dan penuh belas kasihan) di atas adalah modal yang memungkinkan Yesus mempunyai gaya kepemimpinan berkalvari, kerelaan untuk menderita dan tidak mencari kemuliaan untuk diriNya sendiri.

    Jika puncak penderitaan Yesus adalah di kayu salib, maka permulaan penderitaanNya bukanlah dimulai pada saat penangkapanNya di taman Getsemani. Permulaan penderitaan Yesus dimulai bukan pada saat dia dipukul dan diludahi di Makamah Agama, penderitaan Yesus sudah dimulai pada saat Dia berinkarnasi, pada waktu Firman menjadi daging.

    Firman itu telah menjadi manusia dan tinggal diantara kita (The Word became flesh and made his dwelling among us = NIV) ini adalah pernyataan dasar dari inkarnasi . Zondervan NIV Bible Commentary memberikan komentarnya mengenai hal ini sebagai berikut,
    Kristus masuk ke dalam dimensi baru dari eksistensiNya melalui gerbang dilahirkan sebagai manusia dan mengambil tempatNya diantara manusia. Kata kerja yang diterjemahkan “made his dwelling (menjadi tempat tinggalNya)” mempunyai pengertian “mendirikan tenda, untuk tinggal sementara.” Dia meninggalkan tempat yang lazim bagi diriNya dan menerima kondisi kehidupan sebagai manusia dan lingkunganya, serta
    adanya keterbatasan-keterbatasan yang sifatnya sementara yang dialami oleh semua manusia.

    Yesus yang adalah oknum kedua dari Allah Tritunggal, Allah yang tidak terbatas rela “menderita” menjadi bayi yang tidak berdaya yang bahkan untuk makan minumNya sendiri Dia harus bergantung penuh kepada orang tuaNya. Dia bahkan harus dilarikan ke Mesir karena hanya karena seorang penguasa manusia ingin membunuhNya. Sebagai manusia Yesus juga memiliki keterbatasan-keterbatasan manusia seperti: Dia lapar , haus , tidur , gentar dan keterbatasan-keterbatasan yang lainnya.

    Yesus sebagai Allah sejati tidak hanya berinkarnasi menjadi manusia sejati, tetapi lebih dari itu Dia mengosongkan diriNya (kenosis). Banyak orang salah memahami atau menafsirkan tentang kenosis, mereka mengatakan bahwa kenosis adalah bahwa Yesus mengosongkan diri dari sifat-sifatNya yang relatif: kemahatahuanNya, kemahahadiranNya dan kemahakuasaanNya; sekalipun Dia tetap mempertahankan sifat-sifat imanenNya: kekudusanNya, kebenaranNya dan kasihNya.

    Pandangan ini tidak dapat dibenarkan. Kristus berkali-kali menyatakan pengetahuan ilahiNya , contohnya adalah sebagai berikut:

    ” Tetapi Yesus sendiri tidak mempercayakan diri-Nya kepada mereka, karena Ia mengenal semua manusia, dan karena tidak perlu seorang pun bersaksi kepada-Nya tentang manusia, sebab Ia tahu apa yang ada di dalam hati manusia (Yohanes 2:24-25).

    Maka Yesus, yang tahu semua yang akan menimpa diri-Nya, maju ke depan dan berkata kepada mereka: “Siapakah yang kamu cari? (Yohanes 18:4) (penekanan oleh penulis).

    Mengenai kuasa yang dimiliki Yesus, Alkitab mencatat begitu banyak mujizat-mujizat yang dilakukanNya atau mujizat-mujizat yang terjadi dalam namaNya. Yohanes sengaja memilih mencatat beberapa mujizat Yesus dalam Injilnya agar supaya para pembacanya boleh percaya bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah dan supaya kamu kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam namaNya (Yohanes 20:31).

    Kenosis lebih tepat dapat diartikan bahwa Kristus tidak melepaskan satupun sifat ilahiNya , tetapi bahwa Ia dengan rela membatasi penggunaan bebas sifat ilahiNya sesuai dengan kehendak BapaNya (Kemaha hadiran, kemaha tahuan) dengan tujuan untuk hidup di antara manusia dengan segenap keterbatasan mereka.
    Jadi Yesus tetap maha tahu dan maha hadir sejauh hal itu diijinkan oleh BapaNya. Hal ini berarti Yesus menyerahkan kemuliaan yang Ia miliki bersama Bapa sebelum dunia dijadikan lalu mengambil rupa seorang hamba. Kerelaan Yesus untuk membatasi diri merupakan suatu tindakan “rela menderita” seturut dengan kehendak BapaNya.

    Puncak kerelaanNya untuk menderita yaitu di kayu salib, dimana Yesus yang adalah oknum kedua dari Allah Tritunggal itu mati. Allah mati, itulah yang terjadi pada waktu Yesus menyerahkan nyawaNya di kayu salib. Ibrani 2:9 menjelaskan bahwa pada waktu Yesus mati di kayu salib, Yesus yang adalah Allah itu mengalami kematian. Kata “mengalami” dalam Alkitab New International Version (NIV) digunakan kata “taste” yang berarti merasakan atau mengecap. Sedangkan di dalam bahasa Yunani digunakan kata “geuomai “ yang memiliki pengertian mengalami, mengecap, makan. Kata yang sama digunakan di dalam peristiwa Yesus mengubah air menjadi anggur di perkawinan di Kana yaitu, setelah pemimpin pesta “mengecap” air yang telah berubah menjadi anggur itu.

    Jadi yang dimaksudkan dengan Allah mati di kayu salib adalah bahwa Yesus sebagai Allah turut mengecap, merasakan, mengalami kematian seperti kematian yang dialami oleh manusia yaitu kematian tubuh/kematian fisik; berpisahnya roh dan jiwa dengan tubuh jasmani.

    Sepanjang hidupYesus (sebagai manusia) mulai dari inkarnasiNya sampai kepada kematianNya di kayu salib, semua itu adalah kerelaan Yesus untuk menderita. Dia adalah pemimpin yang berkalvari sepanjang hidupnya dimuka bumi ini.

    Pemimpin yang berkalvari bukan berarti pemimpin yang terus menerus dengan sengaja menempatkan diri untuk menderita. Pemimpin yang berkalvari adalah pemimpin yang rela menderita tetapi menderita yang tepat sasaran pada waktu yang tepat, dan menghindari penderitaan yang tidak tepat sasaran serta tidak pada waktu yang tepat.

    Inilah yang disebut menderita (berkalvari) dengan cerdas. Apa maksudnya? Maksudnya adalah pemimpin yang berkalvari rela membayar harga (menderita) pada waktu yang tepat, apapun itu demi terwujudnya visi yang dari Tuhan, tetapi hanya harga untuk terwujudnya visi serta hanya pada waktu yang tepat yang dibayarkan, yang tidak berkaitan dengan visi dan yang tidak pada waktu yang tepat, tidak harus dibayar (mengambil bagian dalam penderitaan).

    Contoh mengenai hal ini adalah, setelah Yesus mendengar bahwa Yohanes Pembaptis telah ditangkap, Dia meningggalkan Nazaret dan kemudian menyingkir ke Galilea. Yohanes ditangkap karena kritik moral yang disampaikannya kepada Herodes berkaitan dengan Herodias istri Filipus saudaranya (Markus 6:14-29). Sedangkan menurut Yosefus, kematian Yohanes juga karena Herodes iri hati dengan Yohanes pembatis yang mempunyai pengaruh yang besar. R.T. France berkomentar, “Yesus menyingkir untuk menghindari sorotan umum dalam suatu suasana yang sarat secara politis”. Jadi Yesus sedang menghindari kemungkinan penangkapan DiriNya seperti Yohanes, sebelum pada waktuNya.

    Pada waktu yang lain, Yesus ada di Nasaret pada hari Sabat, Dia membaca nubuatan nabi Yesaya dan kemudian mulai mengajar mereka. Mereka takjub mendengar pengajaranNya, akan tetapi waktu mereka mengetahui bahwa Yesus adalah anak Yusuf, mereka mulai menolak Dia. Kemudian Yesus menyindir ketidakpercayaan mereka dengan cerita tentang Elia yang diutus bukan kepada janda di Israel tetapi justru kepada seorang janda bangsa kafir di Sidon. Yesus juga menggunakan cerita tentang Elisa, bahwa tidak ada satupun dari orang kusta di Israel yang disembuhkan, namun justru hanya Naaman yang juga bangsa kafir yang menerima kesembuhan. Mereka menjadi marah dan hendak melemparkan Dia dari tebing. Alkitab tidak mencatat secara mendetail dalam peristiwa yang genting itu, hanya dikatakan, “tetapi Yesus berjalan lewat dari tengah-tengah mereka lalu pergi. Mattews Henry di dalam komentarnya mengatakan, “demikianlah Dia melarikan diri sebab waktuNya belum tiba.” Senada dengan Mattews Henry, Zondervan NIV Bible Commentary juga berpendapat, “tetapi ini belumlah waktuNya bagi Dia untuk mati, dan tanpa ada alasan yang dapat dijelaskan, Dia berhasil membuat jalan keluar bagi diriNya” Yesus sedang menghindari penderitaan yang tidak perlu harus dideritanya karena waktuNya belum genap bagi Dia untuk mati.

    Yesus tidak menderita asal menderita, atau yang penting menderita. Dia membayar harga (menderita) hanya untuk yang berkaitan dengan visiNya saja serta hanya untuk pada waktu yang tepat saja. Yesus memimpin dengan berkalvari secara cerdas.

    Yesus menderita (berkalvari) tidak untuk mencari kemuliaan bagi diriNya sendiri. Pemimpin yang berkalvari adalah pemimpin yang tidak egois dan meninggikan dirinya sendiri. Pemimpin yang demikian pada akhirnya akan menyingkirkan Allah untuk memenuhi egonya sendiri. Pemimpin yang berkalvari mempersembahkan egonya kepada Allah di atas altar dan memberikan semua kemuliaan hanya bagi Dia.

    Pemimpin yang meninggikan diri biasanya tidak menyadari bahwa dia telah menyingkirkan Allah sebagai pemimpin. Namun demikian kita bisa mengenali pemimpin seperti ini dari apa yang dikatakannya. Pemimpin egois biasanya akan lebih banyak berbicara tentang dirinya sendiri dengan frasa “Aku”, “milikku”, “pengalamanku”, “pendapatku”, “mauku” dan “bagiku” ketika mereka menyebutkan satu per satu pengalaman, pencobaan, kemenangan, keberhasilan dan pendapat mereka.
    Ketakutan jika ada orang yang lebih dari dirinya akan membuat pemimpin ini akan melindungi rasa aman dan harga dirinya dengan menggunakan posisinya, mengintimidasi orang lain, menahan informasi yang akan membuat orang lain unggul dan menolak masukan dari orang lain sebagus apapun masukan itu.
    Mereka juga biasanya sangat sensitif terhadap kritik, tidak mau menerima pendapat orang lain karena merasa pendapatnya yang paling benar berdasarkan kepada pengalamannya pada waktu-waktu yang lalu. Jika orang tetap tidak bersedia menerima pendapatnya, maka pemimpin jenis ini biasanya cenderung sakit hati dan mulai “menyingkirkan” orang-orang yang tidak sependapat dengan dia dan “mengistimewakan” orang-orang yang setuju dengan dia.

    C. Peter Wagner (2008:61-77) dalam bukunya yang berjudul Humility memberikan lima tanda menuju keangkuhan yang akan diringkas oleh penulis sebagai berikut:
    Tanda 1: Merindukan pujian dan kekaguman dari manusia.
    Tanda 2: Menghitung Skor: mengembangkan suatu sistem dimana kita dapat menghitung berapa banyak “angka” bermuatan gengsi yang didefinisikan sendiri dan sudah kita kumpulkan. Begitu kita memulai ini, kita pun mulai menghitung berapa banyak angka yang orang lain tidak miliki. Semakin banyak orang yang kita dapatkan angka lebih sedikit dibandingkan dengan angka kita, maka semakin baik perasaan kita.
    Tanda 3: Mengidap Creator Complex (kompleks pencipta): Kita mulai mengevaluasi kehidupan dan pelayanan orang lain dan membandingkan mereka dengan siapa kita dan apa yang kita kerjakan. Sejauh mereka mengerjakan hal-hal secara berbeda, kita cenderung menganggap mereka lebih inferior. Lalu, kita berusaha mengubah mereka dan menjadikan mereka menurut gambar kita.
    Tanda 4: Bergembira melihat kegagalan orang lain dan marah melihat kesuksesan orang lain.
    Tanda 5: membela diri sendiri secara kompulsif terhadap kritik.

    Yesus rela menderita karena taat kepada BapaNya. Oleh karena itu setelah kerelaanNya untuk menderita, Bapa kemudian mempermuliakan Dia. Ayat-ayat di bawah ini akan memberikan referensi bagi kita:
    Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran. (Yohanes 1:14).

    Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari pada-Ku. (Yohanes 16:14).

    Ya Bapa, Aku mau supaya, di mana pun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku, mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku, agar mereka memandang kemuliaan-Ku yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan. (Yohanes 17:24).

    Allah Abraham, Ishak dan Yakub, Allah nenek moyang kita telah memuliakan Hamba-Nya, yaitu Yesus yang kamu serahkan dan tolak di depan Pilatus, walaupun Pilatus berpendapat, bahwa Ia harus dilepaskan (Kis. 3:13).

    Oleh Dialah kamu percaya kepada Allah, yang telah membangkitkan Dia dari antara orang mati dan yang telah memuliakan-Nya, sehingga imanmu dan pengharapanmu tertuju kepada Allah (I Petrus 1:21).

    Kami menyaksikan, bagaimana Ia menerima kehormatan dan kemuliaan dari Allah Bapa, ketika datang kepada-Nya suara dari Yang Mahamulia, yang mengatakan: “Inilah Anak yang

    Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.”
    (II Petrus 1:17).

    Dan sesungguhnya agunglah rahasia ibadah kita: “Dia, yang telah menyatakan diri-Nya dalam rupa manusia, dibenarkan dalam Roh; yang menampakkan diri-Nya kepada malaikat-malaikat, diberitakan di antara bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah; yang dipercayai di dalam dunia, diangkat dalam kemuliaan. (I Timotius 3:16).

    Yesus memahami bahwa kerelaan untuk menderita demi tujuan Bapa akan membawa Dia dalam kemuliaan . Para murid juga memiliki pemahaman yang sama dengan Yesus.

    Hal ini dapat dilihat dari tulisan Petrus , Paulus dan penulis surat Ibrani. Bukan hanya itu, Paulus dan Petrus juga menyerukan panggilan kepada orang percaya untuk tetap bertekun, dan dengan demikian mengambil bagian di dalam kemuliaan Yesus.
    Untuk itulah Ia telah memanggil kamu oleh Injil yang kami beritakan, sehingga kamu boleh memperoleh kemuliaan Yesus Kristus, Tuhan kita.
    Sebab itu, berdirilah teguh dan berpeganglah pada ajaran-ajaran yang kamu terima dari kami, baik secara lisan, maupun secara tertulis (II Tesalonika 2:14-15).

    Dan Allah, sumber segala kasih karunia, yang telah memanggil kamu dalam Kristus kepada kemuliaan-Nya yang kekal, akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kamu, sesudah kamu menderita seketika lamanya (I Petrus 5:10).

    Tuhan yang bangkit dengan bekas-bekas paku dan tombak pada tubuhNya tentu telah menyadarkan para muridNya bahwa apa yang paling dibutuhkan dunia adalah teladanNya tentang seorang Mesias yang menderita.

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *